Start Up Deliveree

Tergiur dengan kesuksesan Go-Jek dan Grab di Indonesia, pemain baru bisnis startup transportasi pun bermunculan. Salah satunya yakni startup asal Thailand, Deliveree. Muncul di tengah persaingan ketat, Deliveree percaya diri karena hanya fokus dalam pengiriman barang, dan bukan pengantaran personal.
Deliveree Senior Manager, Nattapak Atichartakarn menuturkan, pihaknya sangat fokus pada ranah logistik. Alhasil, kendaraan yang tersedia pun tak hanya motor dan mobil melainkan kendaraan besar seperti mobil box hingga truk.

“Kami tidak perlu susah-susah memikirkan bisnis lain karena sangat fokus di bisnis logistik. Selain itu, kami punya armada mobil city car, MPV, van, sampai pick up dan truk boks. Kapan barang mau diantar pun bisa diatur dalam aplikasi,” ujarnya .

 

Deliveree Pemain Baru di Bisnis Startup Transportasi

Sistem kerja Deliveree tak berbeda dengan Go-Jek dan Grab. Startup transportasi tersebut hanyalah bekerja sebagai operator. Adapun armada di dapat dan dioperasikan oleh driver yang mendaftar.
Untuk mendaftar menjadi driver Deliveree, diharuskan menjalani tes serta training selama satu hari. Nattapak mengatakan, timnya sangat ketat menyeleksi driver dan biasanya hanya 70 persen saja yang lolos tes dan training.
Selain fokus pada pengiriman barang, Deliveree menawarkan inovasi di ranah logistik. Seseorang tak perlu menunggu lama untuk mengantarkan barang karena paket segera dikirim begitu memesan kendaraan.
Nattapak menuturkan, inovasi inilah yang membuat Deliveree percaya diri untuk mengembangkan bisnis di Indonesia, meskipun persaingan di ranah transportasi logistik sangat besar.

“Semua sektor di Indonesia itu kan bergerak terus dan faktor paling pentingnya adalah logistik, pengiriman barang dari satu poin ke poin lain pasarnya masih besar.
Jadi, kami mencoba menjadi salah pemain di Indonesia dengan menawarkan banyak inovasi. Tinggal buka aplikasi Deliveree dan siapapun bisa mengirim barang. Kami tawarkan kemudahan,” ujarnya.

 
 

Deliveree Tiga Negara

Deliveree asal Thailand tersebut kini beroperasi di tiga negara. Selain beroperasi di negara asal dan Indonesia, Deliveree juga melebarkan sayap ke Filipina. Hanya saja, tidak semua kota di tiga negara tersebut terjangkau layanan Deliveree.
Sedikitnya ada empat kota yang sudah dijajaki oleh startup yang berdiri tahun 2016 tersebut, yakni Bangkok, Jakarta, Bandung dan Manila.
Di antara tiga negara, kata Nattapak, Indonesia mengambil porsi pasar terbesar. Sebanyak 70 persen layanan Deliveree menemukan pasar di tanah air. “Tetap Indonesia porsi pasarnya 70 persen, sisanya baru Bangkok karena Manila baru saja buka,” tuturnya.
Hingga kini, sudah ada lebih dari 2 ribu driver yang bermitra dengan Deliveree. Jumlah tersebut memiliki beragam ukuran armada transportasi, dari sepeda motor hingga truk.
Namun Nattapak mengaku memiliki cukup banyak armada motor untuk pelayanan Jakarta. Pasalnya, kata dia, Jakarta memiliki tingkat kemacetan yang tinggi sehingga motor selalu menjadi solusi dalam pengiriman barang.
Karena memiliki berbagai ukuran moda transportasi, Deliveree pun tak hanya melayani perorangan. Ia menyambut baik pemesanan dari UKM hingga perusahaan besar.
“Bisnis kami tidak cuma di sektor konsumen individu. Kami juga melayani UKM dan perusahaan besar. Kalau mau dibagi, sepertiga konsumen kami adalah individu, sepertiga UKM, sepertiga lain adalah perusahaan besar atau enterprise.
Itu karena kami menyediakan mobil atau truk ukuran besar yang memang sangat dibutuhkan perusahaan besar dan jadi value lebih Deliveree,” kata Nattapak.
 
baca juga
Start Up Sukawu
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri 

Deliveree Dilirik Investor

Meski terbilang baru, Deliveree sudah menerima banyak suntikan dana dari para investor. Startup digital tersebut sedikitnya telah mengumpulkan dana hingga USD 2 juta (sekitar Rp 26 miliar) . Suntikan dana tersebut didapat dari dua investor besar, yakni Inspire Ventures dan Ardent Capital.
Bahkan Nattapak menuturkan, dana besar tersebut hanyalah modal awal. Kedepan, ia mengatakan akan lebih banyak pendanaan berupa seri A kepada Deliveree. Dengan banyaknya investor, startup baru tersebut bahkan hampir mencapai Break Even Poin (BEP).
Padahal sistem pembayaran jasa antar barang Deliveree hanyalah menarik 5 persen hingga 20 persen saja dari biaya pengiriman. Tentu hal ini menunjukkan kinerja Deliveree yang cukup potensial di ranah startup digital.

error: Content is protected !!