Iklan di IG Story Yang Efektif

zowhy.com – Dengan 300 juta pengguna aktif harian, dan terus bertambah setiap harinya, Instagram stories sudah menjadi salah satu fitur paling sukses yang ditambahkan oleh Facebook.

Meskipun ini adalah fitur tiruan dari Snapchat, Stories secara sukses membuat Instagram melesat melewati Snapchat, membuat Snapchat mulai ditinggalkan oleh penggunanya.

IG Story menyediakan cara berbeda untuk berbagi kehidupan, dan sudah menjadi sangat populer sampai-sampai CEO Facebook Mark Zuckerberg pernah mengatakan bahwa Stories suatu saat kelak akan menjadi cara utama kita berinteraksi di jejaring sosial, alih-alih melalui timeline dan News Feed yang biasa ada.

Ini karena story yang kita unggah akan otomatis terhapus setelah 24 jam. Ini memberikan win-win solution bagi kedua pihak: pengguna tidak perlu repot mengelola unggahannya, pihak sosial media pun diuntungkan karena 24 jam otomatis hilang ini membuat pengguna datang lagi dan lagi, supaya tidak ada konten yang terlewatkan.

Facebook dan Whatsapp sendiri mengadopsi Story, meski hasilnya tidak sesukses Instagram.

Dan tentu saja, dengan fitur Stories yang lebih diminati dibandingkan timeline, para pengiklan melihat ini sebagai cara baru beriklan. Facebook selaku pemilik Instagram mengatakan bahwa setengah bisnis di Instagram sudah membuat sekurang-kurang satu story per bulan.

Anda selaku pemilik akun olshop/bisnis pun mungkin pernah melakukannya, minimal iseng mencoba membuka story.

Yang menjadi tantangan dari berpromosi di Instagram Story adalah pendekatannya yang cukup berbeda dari beriklan sosial media dengan cara biasa. Jika Anda sudah terbiasa beriklan dengan video dan atau animasi, Anda mungkin saja tak perlu lama beradaptasi. Namun dengan presentasi berukuran vertikal dan layar penuh ini membuat promosi di Instagram Story membutuhkan perhatian tersendiri.

Jadi, seperti apa cara berpromosi yang efektif di Intagram stories? Bagaimana iklan yang paling disukai audiens?

Kebetulan, Facebook baru saja merilis sebuah riset yang bertujuan untuk mengetahui seperti apa respon paling baik dari pengguna terhadap iklan di Instagram story.

Seperti yang dijelaskan oleh Facebook, riset ini bertujuan untuk membantu para marketer memahami dan menguasai format beriklan jenis baru ini. Facebook IQ merilis seuah survey dengan pengukuran yang jelas dan sadar, bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengguna di Brazil, Indonesia, Inggris, dan Amerika melihat konten di dalam Instagram stories.

Tim Facebook IQ juga merilis metaanalisa terhadap berbagai iklan di Instagram Stories di wilayah Amerika Serikat, yang tujuan akhirnya adalah mengetahui elemen kreatif mana yang akan efektif dalam menangkap atensi dari pengguna dan mendatangkan hasil yang signifikan di dalam bisnis.

Facebook merilis temuan penelitian mereka menjadi lima poin besar, yaitu:

1. Relevansi itu penting

Secara rata-rata iklan di Instagram Story yang performanya memuaskan adalah iklan yang punya nilai relevansi tinggi, dibandingkan dengan iklan dengan relevansi rendah. Iklan yang relevansinya tinggi juga menarik perhatian, relatif mudah dimengerti, dan sesuai dengan citra dari pihak yang diiklankan.

Nilai relevansi dihitung berdasarkan dari umpan balik positif dan negatif yang diperkirakan akan muncul dari target audiens. Semakin besar interaksi positif yang diperkirakan akan muncul, semakin tinggi nilai relevansi tersebut.

Indikator positif negatif sendiri bervariasi; namun yang paling jelas adalah bila iklan Anda kelak dilaporkan bermasalah, mengganggu, tidak sesuai, atau spam, maka ini disebut indikator negatif. Indikator positif bisa berupa link yang diklik, jumlah like, transaksi, dan lain-lain.

Iklan akan menerima nilai relevansi dari 1 sampai 10, dengan 10 menjadi yang paling tinggi. Nilai akan diperbarui berdasarkan interaksi sosial yang terjadi dan umpan balik yang diterima.

 
 
 

2. Durasi sebaiknya singkat.

Secara rata-rata, iklan yang berperforma positif di Instagram stories berdurasi singkat dan menampilkan branding lebih awal, dibandingkan iklan dengan performa kurang memuaskan.

Seperti yang diketahui, satu story di Instagram dapat berdurasi hingga 30 detik. Namun, story ini dapat disambung-sambung juga menjadi iklan dengan durasi lebih panjang. Instagram story yang paling banyak dibuka adalah dua stories pertama. Jumlah viewer story akan terus menurun per storynya.

Jadi, agar menjangkau banyak audiens, lakukan durasi iklan yang singkat. Branding sudah dimulai sejak awal story dimulai, karena waktu Anda tak banyak.

 

3. Hindari bertele-tele.

Ada juga pengiklan yang mementingkan estetika, sehingga stories di iklannya mengandung banyak scene. Secara rata-rata, iklan yang performanya bagus berdurasi lebih pendek dibandingkan iklan yang durasinya panjang.

Anda pun sebaiknya lakukan hal serupa; hindari bertele-tele! Lakukan promosi dengan segera di awal stories dimulai. Membuat scene dan animasi memang bagus, namun fokus utama kita adalah menjangkau brand ke benak audiens secepat mungkin.

4. Demonstrasikan produk

Facebook sendiri dalam penelitiannya menemukan bahwa Instagram stories yang mendemonstrasikan produk (produk dipakai/dikonsumsi) berperforma lebih baik dibandingkan hanya menampilkan produk tanpa didemonstrasikan penggunaannya.

Jadi bila Anda menjual sepatu, maka di Instagram stories buatlah sepatu tersebut digunakan. Bila Anda berbisnis pakaian, maka buatlah pakaian Anda dikenakan.

5. Iklan yang efektif adalah yang sudah teroptimasi mobile.

Teroptimasi mobile di sini berarti ukurannya sudah disesuaikan dengan layar smartphone. Bila Anda terbiasa berpromosi menggunakan kamera ponsel rasanya tidak masalah; ukurannya tentu sudah pas. Namun, bila Anda menggunakan animasi atau video editor, maka usahakan promosi Anda berikutnya sudah teroptimasi mobile.

error: Content is protected !!