Menawarkan cara baru mencari barang dengan memberikan referensi sekaligus perbandingan harga barang sejenis di beberapa toko online, menjadikan PriceArea sebagai satu-satunya situs yang mengusung konsep ini sebelum akhirnya diikuti oleh beberapa situs lain seperti Telunjuk dan PandaPrice.
 
Sudah barang tentu, karena yang ditawarkan adalah sesuatu yang baru, membuat PriceArea sulit untuk dapat dipahami langsung oleh pengguna internet. Tidak sedikit pengguna internet yang mengira situs ini adalah Toko Online sehingga banyak yang menelepon pengelolanya dengan maksud untuk membeli barang.
 
Tidak hanya itu saja kesulitan yang harus dihadapi PriceArea, tapi juga dalam hal teknis, karena banyaknya jenis dan judul produk, sehingga pengelola sempat kesulitan untuk dapat membuat perbandingan harga.
 
Namun, karena yang digarap adalah segmen pasar baru, membuat situs ini lebih mudah dalam menjaring investor. Bahkan, diawal pendirian pada tahun 2010, PriceArea sudah mendapatkan support dana dari perusahaan asal Singapura, East Ventures yang juga menanamkan investasi pada 4 startups papan atas lainnya, seperti Tokopedia, Apps Foundry, Urbanesia dan Foound.
 
Tidak hanya itu, pada tahun 2012 suntikan dana segar kembali diperoleh dari 2 investor langsung yaitu GREE Ventures dan So-net dari Jepang. Sehingga PriceArea yang kala itu mulai berhadapan dengan situs sejenis dapat melakukan pemasaran secara agresif untuk meningkatkan revenue dan jumlah kunjungan.
 
Terakhir, situs perbandingan harga ini  diakuisisi oleh Yello Mobile, sebuah perusahaan asal Korea Selatan yang membuat PriceArea merambah pasar Asia Tenggara dengan melakukan pembelian domain dan crawler toko-toko online yang ada di negara-negara tetangga.
 
Saat ini, PriceArea sudah menawarkan lebih dari 15 juta produk milik 860.000 penjual dan dikunjungi lebih dari 12 juta pengunjung, sehingga menempatkannya sebagai situs perbandingan harga nomor satu di Indonesia.
 

PriceArea Jatuh Bangun dalam Berbisnis

Nama dibalik sukses PriceArea adalah Andry Suhaili, pemuda asal Batam yang menamatkan pendidikannya di California Institute of Art Los Angeles, Amerika Serikat Jurusan Ilmu Komputer dan Animasi.
 
Lulus kuliah dia sempat bekerja sebagai desainer kreatif selama 6 bulan di Ogilvy and Mother di Los Angeles, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah air.
 
Tekadnya untuk menjadi pengusaha sukses, membuat Andry membangun bisnisnya untuk pertama kali pada tahun 2004 dengan memanfaatkan garasi dan dibantu 2 orang karyawan. Dia memanfaatkan keahliannya di bidang animasi komputer dengan mendirikan Artic yakni sebuah Rumah Desain dan Agen Pengembangan Web.
 
Pada perkembangannya, Artic bertransformasi menjadi agen layanan periklanan dan tumbuh dengan pesat sehingga mampu menggaji 40 karyawan.
 
Namun karena krisis ekonomi yang membuat sebagian besar kliennya memotong budget untuk iklan hingga 50 persen, membuat Artic pun sekitar tahun 2008 ikut terkena dampaknya. Sebanyak separuh dari 40 karyawan terpaksa dirumahkan termasuk direktur seni dan kreatif.
 
Untuk mengatasi kondisi perusahaannya yang mengalami penurunan, Andry mencoba bereksperimen lewat bisnis online. Sasarannya adalah website komunitas online bagi para pakar serta mereka yang antusias terhadap bidang pemasaran dan periklanan.
 
Bisnis tersebut sebenarnya berjalan dengan baik. Namun Andry sadar bahwa bisnis yang dia jalankan akan sulit untuk berkembang disebabkan sedikitnya jumlah perusahaan periklanan di Indonesia.
 
Tidak sampai satu tahun berjalan, Andry tertantang untuk membuat sesuatu yang lebih besar. Maka lahirlah CekLagi.com yang membidik para penjual offline. Saat website berjalan sekitar 2 tahun, Andry kembali menyadari bahwa belum saatnya untuk memberikan solusi bagi para penjual offline.
 
baca juga
Start up Click and Grow
OPSANI, Membantu Mengoptimalkan Cloud Dengan AI
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri
 
Itu sebabnya, CekLagi bertransformasi menjadi priceArea yang terus berkembang hingga menjadi besar sebagaimana yang ada sekarang.
 
Kegagalan demi kegagalan yang dirasakan laki-laki berusia 31 tahun ini tidak membuatnya putus asa untuk menekuni bisnis dengan terus menggali ide-ide baru. Ketekunan dan kreatifitas itulah yang membuatnya kini dapat memetik hasilnya.
 
“Bekerja di dunia periklanan akan membuat Anda bekerja dalam waktu lama, utamanya saat menangani proyek penting atau mengejar deadline. Itu sebabnya butuh kondisi tubuh yang prima  dan terus menghasilkan ide-ide kreatif” pungkas Andry Suahili. (*)
 

You May Also Like

Start Up Pawoon

Zowhy – Start Up Pawoon , Dari Kertas Menuju UMKM Berkelas, Industri mikro, kecil dan menengah di Indonesia…

Start Up GIPHY

Graphics Interchange Format atau GIF sudah menjadi tren terbaru untuk membantu para pengguna internet mengekspresikan perasaan. Memfasilitasi perkembangan…
Read More

Start Up Edmodo

Edmodo adalah perusahaan rintisan atau startup bergerak di bidang teknologi pendidikan yang menawarkan platform komunikasi, kolaborasi, dan pelatihan…